Jumat, 26 Oktober 2018

Wisata Spiritual & Wisata Alam di Perut Bumi

       Wisata spiritual memang agak berbeda dengan travelling biasanya, di sini kamu bisa merasakan energi positif yang lebih besar. Melakukan wisata spiritual ini akan membuatmu berfikir dan bertindak lebih positif.
                              

Di dalam Gua Jatijajar terdapat 7 (tujuh) sungai atau sendang, tetapi yang dapat dicapai dengan mudah hanya 4 (empat) sungai yaitu: Sungai Puser Bumi, Sungai Jombor, Sungai Mawar, dan Sungai Kantil. Mitos sendang Puser Bumi dan Jomborkonon airnya mempunyai khasiat yang dapat digunakan sebagai perantara atau tuah untuk segala macam tujuan menurut kepercayaan masing-masing. Sedangkan mitos sendang Mawarkonon airnya jika untuk mandi atau mencuci muka, maka mempunyai khasiat bisa awet muda.Sedangkan mitos sendag Kanthil jika airnya untuk cuci muka atau mandi, maka niat dan cita-citanya akan mudah tercapai. Pada saat ini yang telah dibangun baru sendang Mawar dan sendang Kanthil, sedangkan sendang Jombor dan sendang Puser Bumi masih alami dan masih belum ada penerangan serta lokasinya sangat licin.
 Sendang Jombor dan Puserbumi. Kedua sendang ini dikeramatkan. Hanya dengan izin Juru kunci setempat, lorong gua itu boleh dilalui. Orang tertentu yang punya keinginan, dengan menaruh sesaji di sendang itu, konon akan dikabulkan doanya.

 
   Wisata spiritual selama ini hanya dikaitkan secara fisik. Kunjungan ke tempat-tempat yang dianggap sakral atau disucikan. Mengapa saya katakan disucikan? Semua tempat adalah suci adanya, karena Tuhan menciptakan tempat yang baik dan suci. Hanya manusia yang kemudian menganggap tempat tersebut suci atau tidak. Anggapan ini berasal dari pikiran manusia. Jika pikiran tidak suci, bagaimana mungkin suatu tempat bisa dianggap suci? Wisata spiritual bisa dirasakan manfaatnya hanya dan hanya manusia yang mengunjungi tempat tersebut bisa berubah sifatnya setelah berkunjung ke tempat tersebut. Selama manusia yang berkunjung hanya memanfaatkan tempat tersebut sebagai suatu ritual yang ujung-ujungnya untuk mendapatkan perolehan bersifat kebendaaan, tempat tersebut belum bisa dikatakan suci. Definisi atau pemahaman tentang kesucian pun sesungguhnya sangat relatif. 

   


   Tiada seorangpun bisa meng-klaim bahwa suatu tempat bisa dikatakan suci. Karena tiada seorangpun bisa mengawasi pikiran orang lain. Bisa saja secara fisik ia menjaga sesuatu dari perbuatan tercela, tetapi dalam pikiran, siapa yang tahu. Bisa saja orang tersebut melakukan ritual yang oleh orang pada umumnya 'suci', tetapi dalam batinnya ia membayangkan suatu yang tidak senonoh atau pikiran yang masih mengandung kebencian terhadap sesama. Bukankah ia tidak bisa mensucikan luar dan dalam? Seperti inilah kita pada umumnya. Munafik.... Tiada kejahatan di bumi ini, yang ada adalah kemunafikan... Bagaimana layak ia berkunjung ke tempat yang katanya 'suci'? Lantas bagaimana menyikapi wisata spiritual sesungguhnya? Mungkin, ini opini saya, bisa dikaitkan tidak sekedar dengan tempat. Tapi suasana batin. Saat batin meraskan kebahagiaan yang tiada batas, artinya bukan karena hal-hal yang duniawi, inilah wisata spiritual sesungguhnya. So, bisa saja seseorang sepertinya tidak kemana-mana badannya, tetapi kesadarannya meluas tanpa batas sehingga ia merasakan kebesaran Tuhan dan merasakan kebahagiaan yang tak terkatakan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar